About Dedi Letto

“Salah satu” the Rising Star di blantika musik kita adalah Group band Letto yang ‘salah satu” personilnya amat di sukai oleh YAE (Yamaha artist Endorsee) yaitu “salah satu “ divisi di dalam tubuh Yamaha Musik Group yang bertugas mengumpulkan musisi berbakat untuk menjadi duta musik Yamaha. Bak gayung bersambut, keinginan Yamaha rupanya juga adalah impian dari personil band tersebut, yang konon sejak kecil sudah amat teramat akrab dengan alat musik merek Yamaha.
Maka jadilah “salah satu “ personil band Letto tersebut menjadi “salah satu” Yamaha artist endoser.
Sebagai tanda ikatan keduanya, Dedi sang “rising star” yang di maksud menerima seperangkat drum set Yamaha dengan model “Yamaha Tour Custom” lengkap dengan semua hardware yang dibutuhkan.
Dan, Deddy juga membalas dengan ikrarnya “ Akan menggunakan” drum set tersebut di setiap pertunjukan yang ada Lettonya, juga akan bercerita banyak kepada sesama musisi baik pemula maupun yang senior kalau Tour Custom seriesnya Yamaha amat layak untuk dipertimbangkan sebagai pilihan terbaik buat semua para pengguna dan penggila drum di Indonesia hingga di Manca negara.
Coba simak riwayat singkat dari “The Rising star kita” di bawah ini.
PROFIL DEDI RIONO
Si bungsu yang bergabung bersama Letto sebagai penggebuk drum. Lahir di Yogyakarta 23 Januari 1987 dengan nama asli Dedi Riyono. Dedi (asli) adik kandung Patub, tadinya ada ide Letto mau diberi nama Riyonos Band, (fiuh..) untunglah tidak jadi. Menyukai kegiatan gebuk menggebuk drum sejak SD, membuatnya mempunyai jam terbang yang cukup banyak, dan dia menganggap drum adalah, “Bunyi-bunyian yang bisa nyanyi.”
Mengaku menjadi pria terhebat tapi punya penyakit penakut tingkat akut, dia berkeinginan disamping menjadi drummer juga bisa berwiraswasta “Atau apalah yang penting halal.” Itu yang dia bilang. Waktu senggangnya saat Letto off digunakannya untuk main ke angkringan atau minum teh poci Pakualaman bersama teman-teman lamanya. Kalau ditanya tentang status kuliahnya, ini yang dia jawab,”Saya sebenernya mahasiswa, tapi tersendat banget gara-gara Letto…tapi sekarang punya uang jajan sendiri, itu juga gara-gara Letto hehe…. Yang penting adalah jangan sampe kuliah ngganggu nge-band hahaha!! Dan Insyaallah duit ngeband bisa untuk kuliah (kalo sempat)”. Dan apakah lagu favoritnya? “Opo wae sing penting yang nyanyi Dewi Persik hahaha!!” Tawa memang tidak pernah lepas dari bibirnya.
LETTO….
Sebuah nama tanpa arti. Sengaja dibuat tidak berarti, tidak mengarah pada sifat apapun, tidak asumtif. Semua agar para personel nya selalu terpacu untuk terus berkarya, berusaha mencari makna Letto dengan semua proses kreatif yang mereka lakukan.
Bertemu pertama kali di SMU 7 Jogja, dan mulai berkesenian di berbagai bidang. Seperti teater, musik kontemporer plus gamelan, bikin script film, bikin berbagai macam desain cover kaset dan tetek bengeknya… Dan Alhamdulillah mereka berteman baik dengan kesenian.
Selepas SMU, karena kuliah dan kesibukan masing-masing, mereka pun sempat berpisah dan frekuensi berkumpul menurun drastis. Tapi di akhir tahun 99 mereka bisa berkumpul lagi. Dari menjadi buruh bangunan untuk GEESE (studio), mereka mengelola dan bisa memakai studio. Sedikit demi sedikit mereka iseng bikin lagu dan direkam… ternyata banyak orang bilang lagunya enak.
Anak-anak Letto tidak berusaha menjadi siapapun atau apapun dalam berkreasi dan bermusik. Musik bagi mereka bukan satu-satunya tujuan saat itu dan sekarang, karena musik hanya bagian dari seluruh proses kreasi yang mereka niati dan jalani. Motif mereka ini hanyalah bekerja keras membuat lagu dan mengharap Tuhan mau sedikit berlapang menjatuhkan rahmat ekstra nantinya.
Letto tetap ingin berkreasi menghasilkan karya-karya yang bisa menyenangkan diri sendiri dan Insya Allah juga orang lain. Menganggap bahwa tiap peristiwa yang terjadi dalam hidup adalah belajar. Belajar bertahan hidup, belajar mengambil hikmah, belajar bertahan dalam kondisi apa pun, belajar untuk tetap rendah hati dan belajar untuk yang lain-lain juga. Istiqomah adalah teori dan praktek yang selalu diusahakan ada dalam perjalanan Letto. LETTO.... tidak mencoba untuk menjadi siapa-siapa. Hanya tidak ingin sia-sia.
DISCOGRAPHY ALBUM
PILIH 2004
Pertama kalinya Letto masuk dapur rekaman dengan mengusung tembang manis mereka I'll Find a Way. Waktu itu Letto masih menjadi Leto, dengan hanya satu T. Berawal dari sebuah pertemanan di SMA, anak-anak Leto belum bermimpi bakal punya band dan sebagainya. Proses berkesenian mereka yang kreatiflah yang membuat mereka coba-coba untuk bikin lagu dan segala macam tetek bengeknya. Tongkrongan plus kegiatan belajar kerja mereka yang memang di studio musik, sedikit banyak mempermudah akses mereka dalam hal buat membuat lagu. Nah, salah satu hasilnya ya I'll Find a Way itulah. Atas saran banyak guru akhirnya mereka kirimkan demo ke Musica. Alhamdulillah, Musica tertarik, dan keluar Pilih 2004 release.... Leto masuk jadi salah satu band yang ada di album Pilih 2004 ini.... Lagunya? I'll Find a Way, manis, tapi sama sekali jauh dari kesan cengeng.
TRUTH, CRY AND LIE
Double Platinum Award (untuk penjualan lebih dari 350.000 copy)
Bukan cuman sok-sok an kalo separuh dari lagu-lagu di album ini pakai bahasa internasional Inggris. "Ini adalah proses kreatif yang mengalir jujur." ungkap Noe.
Memang begitulah adanya. Walaupun ada banyak pengaruh yang mewarnai musik Letto (sekarang udah pake dua T... ya sejak album ini keluar) tapi waktu membuat lagu, mereka belum memikirkan konsepnya, semuanya dibiarkan mengalir. Proses kreatif yang mengalir jujur.... Hasilnya? Lagu-lagu dengan lirik yang dalam, lagu-lagu yang bisa menggoda para penikmat musik... enak dibawa ke hati, manis, simpel, laris kayak kacang goreng... tapi nggak kacangan.